Husnuzhan Pun Perlu Ilmu

Husnuzhan perlu ilmu

Belum tibakah masa untuk mengambil pelajaran? Tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan dan mempercayai. Tidak pula berlamban-lamban. Janganlah karena ingin husnuzhan, lalu mengabaikan pentingnya memeriksa. Jangan pula karena husnuzhan, lalu hilang kehati-hatian dan kecermatan. Bahkan terhadap yang sangat kita percayai pun, tatsabbut itu penting.

Sesungguhnya, husnuzhan tanpa ilmu adalah kebodohan yang sangat besar. Ia menjerumuskan sejauh-jauhnya dari kebaikan bersebab mempercayai orang fasik. Husnuzhan itu ditetapkan pada orang-orang yang memang dikenal kebaikannya sebagaimana pada kasus haditsul ifk. Bukan terhadap orang fasik.

Mari kita renungi kembali firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’anul Kariim seraya mengingat asbabun nuzul agar tak salah kaprah soal husnuzhan.

ﻟَّﻮْﻻَٓ ﺇِﺫْ ﺳَﻤِﻌْﺘُﻤُﻮﻩُ ﻇَﻦَّ ٱﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﻭَٱﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَٰﺖُ ﺑِﺄَﻧﻔُﺴِﻬِﻢْ ﺧَﻴْﺮًا ﻭَﻗَﺎﻟُﻮا۟ ﻫَٰﺬَآ ﺇِﻓْﻚٌ ﻣُّﺒِﻴﻦٌ

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin dan mukminah tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (QS. An-Nuur ,24: 12).

Tidakkah engkau perhatikan kaidah husnuzhan itu?

Bagaimana jika seseorang itu tidak diketahui keadaan pribadinya? Tidak mendukung, tidak memastikan kebaikannya dan tidak pula keburukannya.

Kita perlu berhati-hati dalam menerima berita. Bahkan tak mudah takjub oleh yang tampak gegap gempita. Belajarlah dari kasus Masjid Dhirar agar tak mudah takjub terhadap yang tampak baik:

ﻳَٰٓﺄَﻳُّﻬَﺎ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ءَاﻣَﻨُﻮٓا۟ ﺇِﻥ ﺟَﺎٓءَﻛُﻢْ ﻓَﺎﺳِﻖٌۢ ﺑِﻨَﺒَﺈٍ ﻓَﺘَﺒَﻴَّﻨُﻮٓا۟ ﺃَﻥ ﺗُﺼِﻴﺒُﻮا۟ ﻗَﻮْﻣًۢﺎ ﺑِﺠَﻬَٰﻠَﺔٍ ﻓَﺘُﺼْﺒِﺤُﻮا۟ ﻋَﻠَﻰٰ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻠْﺘُﻢْ ﻧَٰﺪِﻣِﻴﻦَ 

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuurat, 49: 6).

Perhatikan, terhadap orang fasik harus hati-hati.

Jadi, husnuzhan pun tidak asal. Apalagi menyebabkan kita serampangan mengambil berita, lalu menyerahkan kepercayaan sepenuhnya.

sumber: Mohammad Fauzil Adhim

Berkendara melewati jalur alternatif tercepat Tawangmangu (Karanganyar) – Sarangan (Magetan)

Rute ini adalah rute yang menurut saya tercepat selama kurang lebih setahun saya menjelajahi Madiun – Karanganyar via jalur Gunung Lawu. Karena saya kurang pandai bercerita, maka langsung saja saya berikan rekaman berkendara saya jumat sore kemarin, setiap jumat sore saya pulang mudik ke Madiun dari Karanganyar. Kebetulan saya memakai aplikasi MapMyRide di handphone android saya, jadi rencana saya untuk membagi jalur ini kepada netizen akhirnya terlaksana juga, setelah sekian lama saya mendapati banyak biker yang motornya lebih kencang dari motor saya ternyata lebih lama sampai ke puncak lawu di Cemoro Sewu, ga sombong, sumpah 😀

View Larger Map
Catatan: start awal dari SPBU Popongan (Karanganyar) dan berakhir di Masjid Raya Sarangan (Magetan)

Gahzwul Fikri (Perang Pemikiran) – Pengertian, Alasan, Tujuan, dan Cara Mengatasinya

Pengertian Ghazwul Fikri

Ghazwul fikri berasal dari kata ghazw dan al-fikr, yang secara harfiah dapat diartikan “Perang Pemikiran”. Maksudnya ialah upaya-upaya gencar pihak musuh-musuh Allah untuk meracuni pikiran umat Islam agar jauh dari Islamnya, lalu akhirnya membenci Islam, dan pada tingkat akhir Islam diharapkan habis sampai ke akar-akarnya.

Perang pemikiran atau ghazwul Fikri adalah cara lain dari barat untuk menghadapi umat islam khususnya dalam merusak sendi-sendi islam bahkan keseluruhan. Perang pemikiran berbeda dengan perang militer atau fisik. Perang pemikiran lebih ‘mudah’, hemat waktu dan biaya bahkan lebih efektif dari perang fisik yang banyak menguras tenaga juga biaya yang tidak sedikit.

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, bahkan berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukainya benci.” ( At-Taubah: 32; ash-Shaf : 8 )

“…Mereka tidak henti – hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.” (Al-Baqarah: 217)

Dari ayat-ayat di atas kita mengetahui bahwa kita tidak akan pernah berhenti melawan musuh-musuh Allah dalam membela agama kita, Islam. Termasuk adanya Ghazwul fikri yaitu perang pemikiran yang digencarkan oleh musuh-musuh Allah seperti setan, jin, iblis, bahkan manusia itu sendiri.

Sejarah Ghazwul Fikri sudah ada setua umur manusia, makhluk yang pertama kali melakukannya adalah iblis laknatullah ketika berkata kepada Adam AS., “ Sesungguhnya Allah melarang kalian memakan buah ini supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat dan tidak dapat hidup abadi. “ (Q.S.Al – A’Raaf:20).

Dalam perkataannya ini iblis tidak menyatakan bahwa Allah tidak melarang kalian (Adam ‘alaihissalam), seperti yang telah dijelaskan ayat tersebut, tetapi iblis mengemas dan menyimpangkan makna perintah Allah ‘azza wa jalla. Sesuai dengan keinginannya, yaitu dengan menambahkan alasan pelarangan Allah yang dibuat sendiri. Iblis tahu bahwa Adam ‘alaihissalam tidak punya pengetahuan tentang sebab tersebut.

Di era saat ini, ghazwul fikri terus berkembang, bahkan menyesatkan kaum-kaum muda dan intelektual. Sekedar Contoh, negara barat dengan berbagai lembaga dan wadah kegiatannya, banyak memberikan fasilitas beasiswa studi gratis ke luar negeri. Pemuda dan pemudi yang cerdas dari negeri muslim ditawari untuk kuliah di universitas-universitas favorit yang di sana. Di bidang ilmu-ilmu sosial, mereka dipilihkan ke program studi yang rentan terhadap ghazwul fikri, misalnya filsafat, antropologi, sosiologi, dan lain-lain. Mereka ‘dikaderisasi’ untuk menjadi ahli dibidang tersebut, kemudian dipulangkan ke negeri masing-masing. Harapannya, mereka dapat menjadi pelaku utama dalam ghazwul fikri atau merusak Islam dari dalam. Biasanya mereka membawa perubahan dan pembaharuan atau modernisasi. Semua yang mereka ‘kader’ akan dikondisikan sedemikian rupa dengan segala cara sehingga rusak dan luntur rasa keagamaan (Islam)nya, luntur akidah, akhlak dan rusak pemikirannya. Mereka didekatkan dengan lawan jenisnya yang cantik atau tampan, diajaknya minum-minum, jalan-jalan, kumpul kebo, atau yang lainnya, diajak diskusi secara kontinyu dengan tema-tema yang dapat menggiring kepada pelecehan dan perendahan Islam oleh orang-orang tertentu yang ahli dan dipaksa membuat karya tulis dengan literatur yang telah ditentukan dan merusak Islam. Akhirnya setelah studinya selesai dan pulang ke negerinya, si pelajar atau mahasiswa tersebut menjadi orang yang telah tercabut dari akar budaya dan keislamannya.

Jika yang menjadi korban ghazwul fikri adalah seorang tokoh terkemuka dan berpengaruh, maka racun ghazwul fikri itu segera menjalar secara cepat, karena tokoh tersebut akan diikuti dan ditiru oleh pengikut dan penggemarnya. Akhirnya, secara tidak sadar masyarakat terjerumus kedalam jurang kehidupan yang semakin jauh dari nilai-nilai dan ajaran Islam.

Alasan mereka melakukan Ghazwul Fikri (perang pemikiran) karena beberapa hal,

Pertama, Sulitnya mengalahkan umat islam secara militer. Hal ini membuat mereka stress karena mereka sudah banyak memakan biaya yang tidak sedikit, tenaga yang besar bahkan telah mengorbankan warga-warga mereka dalam perang fisik itu yang juga tidak sedikit warga mereka yang tewas. Terbukti dengan adanya perang di Palestina, Afghanistan dan masih banyak lagi negeri-negeri muslim yang mereka perangi namun kemenangan untuk mereka tidak pernah datang padahal negeri-negeri (muslim) yang mereka perangi jika di bandingkan dengan mereka baik dalam hal teknologi, persenjataan, kekuatan Negara dan juga tentara-tentaranya sangat jauh tertinggal dari mereka.

Kedua, karena biayanya lebih rendah, mereka tidak perlu membeli tank-tank, pesawat-pesawat, amunisi. Yang mereka perlukan hanya menyebarkan ide-ide yang mereka usung keseluruh belahan dunia dengan tujuan imperialisme-kolonialisme. Bahkan dengan cara ini yang tidak terjangkau oleh perang fisik bisa terjangkau dengan perang pemikiran, sebagai contoh; dalam perang pemikiran media yang mereka pakai sangat banyak mulai dari media massa; cetak, elektronik dsb-nya, karya2 ilmiah, mendirikan Lsm2, lembaga2 pendidikan, buku-buku bahkan ‘lewat mulut’ pun mereka lakukan. Dari media2 inilah mereka bisa menjangkau apa yang tidak terjangkau. Lewat buku2 mereka bisa menjangkau dari kalangan awam sampai kalangan terpelajar, bahkan yang lebih menghawatirkan mereka melakukannya lewat media elektronik semisal televisi, orang2 yang belum kuat pemahaman (islam) nya dengan sangat mudah cepat terpengaruh dari media tersebut tak terkecuali anak2. Sangat menghawatirkan.

Ketiga, karena lebih mudah dilakukan berkat bantuan kaki tangan mereka dari kalangan umat islam sendiri, inilah ‘virus’ yang amat berbahaya dari segala virus, ‘virus’ ini lebih hina dan keji dari virus HIV/AIDS namun dari cara kerjanya sama, mereka menggerogoti ‘organ2′ penting agama ini yang mengakibatkan hancur dari dalam. Penganut liberalisme dari kaum muslimin sendiri termasuk ke dalam ‘virus’ hina ini, karna mereka mengusung ide2 yang bertentangan dengan islam, memuja kebebasan termasuk kebebasan menafsirkan Al-Qur’an sekehendak udel mereka, berkiblat pada barat, mengusung ide2 yang beasal dari barat.

Keempat, Hasilnya lebih memuaskan karena melanggengkan penjajahan barat terhadap dunia islam. Pemimpin2 negeri muslim yang berkiblat pada barat dengan mudah ‘di kontrol’ oleh mereka, bahkan menjadi boneka2 mereka yang menjalankan pemerintahan di bawah perintah asing (barat). Inilah yang melanggengkan cengkeraman barat di dunia islam. Inilah alasan2 barat melakukan Ghazwul Fikri (perang pemikiran) terhadap dunia islam.

Adapun sasaran-sasaran yang mereka tuju dalam melakukan ghazwul fikri,

Pertama, adalah mendangkalkan Aqidah hingga pemurtadan.
Kedua, menumbuhkan keraguan terhadap ajaran islam. Yang mereka lakukan adalah mengobok-obok hukum2 islam, mereka menyebutkan hukum2 islam sudah tertinggal oleh jaman tidak bisa diterapkan lagi dalam kehidupan sekarang, hukum potong tangan, rajam, jilid dsb-nya tidak manusiawi melanggar HAM dan berbagai macam komentar dari mereka yang bertujuan meragukan kaum muslimin dari agamanya. Tidak sedikit dari umat ini yang berpandangan sama seperti barat, namun mereka bukan dari kalangan SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, liberalisme) yang berpendapat Hukuman potong tangan, rajam dsb-nya tidak manusiawi. padahal sejatinya Hukuman-hukuman itu adalah Jawajir dan jawabir , yaitu pencegah dan penghapus dosa. Inilah yang mesti diterangkan pada umat yang berpandangan seperti itu.

Ketiga, mereka menciptakan sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan). Mereka mengatakan Agama tidak perlu dibawa-bawa dalam aktifitas keseharian dan khususnya politik. Jika ada Pedagang yang mengatakan “kalo jualan bawa2 agama gimana mau kaya!” itulah hasil kerja dari orang2 penganut sekulerisme, mereka berhasil menjauhkan umat dari agamanya sendiri. Selain karna sekulerisme memang asas mereka yang mereka jadikan sebagai qaidah fikriyah(kaedah berpikir) dan qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir) mereka juga bertujuan melemahkan dan menghancurkan Islam ini dengan cara menjauhkan kaum muslimin dari agamanya.

Keempat, menumbuhkan Islamphobia baik pada kalangan (umat) islam maupun kalangan non-islam. Mereka ‘menciptakan’ ide “Perang melawan Teroris” dan yang mereka ‘jadikan sebagai teroris’ adalah umat islam yang berjuang untuk menegakkan Panji-panji Laillahaillallah di muka bumi ini dan negeri2nya.

Kelima, merusak moral kaum muslimin. Mereka merusak moral2 kaum muslimin dengan cara ‘memperkenalkan’ pergaulan bebas, free sex, Clubbing, lagu2 cengeng tentang putus cinta, jatuh cinta, budaya pacaran dan segudang aktifitas lainnya yang banyak dilakukan kaum muslimin sekarang ini khususnya anak muda.

Keenam, memecah belah persatuan umat islam. Mereka memakai pisau analis yang ‘membagi-bagi’ kaum muslimin terdiri dari; Islam Radikal atau Islam Fundamentalis, Tradisionalis dan Islam moderat. Kaum muslimin yang menentang barat, barat kelompokan kedalam Islam Fundamentalis atau Islam Radikal, sementara kaum muslimin yang ‘wellcome ‘ terhadap barat mereka kelompokkan kedalam Islam Moderat. Inilah contoh kecil yang Barat lakukan dalam memecah belah kaum muslimin. Kita harus selalu waspada jangan sampai kita ‘merasa’ bagian dari salah satu ‘kelompok’ yang barat ciptakan di atas dan menganggap yang berbeda ‘kelompok’ adalah musuh.

Dan yang ketujuh, adalah melanggengkan kolonialisme baru di tengah2 dunia islam. Mereka menjajah, merampas kekayaan negeri2 muslim untuk kepentingan negara mereka. Mereka ‘membeli’ orang2 yang berpengaruh dalam negaranya agar dijadikan kacung-kacung (antek2) mereka. Dengan cara seperti itu mereka dapat mengendalikan negeri2 muslim karna para penguasanya telah mereka ‘beli’.

Inilah sebagian kecil dari Ghazwul Fikri (perang pemikiran), namun masih banyak lagi tujuan-tujuan, maksud-maksud, rencana-rencana busuk yang mereka kerjakan dan juga yang belum mereka kerjakan. Kita sebagai umat harus selalu waspada dan menambah pemahaman dan juga Tsaqofah kita agar kita dapat menangkal dan melawan perang pemikiran yang dilancarkan barat. Keep Ghirah wa istiqomah.. Allahu Akbar..

Cara Mengatasi Ghazwul Fikri dengan Fi Sabilillah

Fi sabilillah adalah jihad dalam arti umum, (jihad tangan, harta dan lisan), ia mencakup perang di jalan Allah dan dakwah kepada agama Allah serta segala aktivitas yang berkait dengannya.

Jihad dalam Islam tidak terpaku pada perang militer dengan senjata semata. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

جَاهِدُوا المُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ
“Berjihadlah melawan orang-orang musyrikin dengan harta, jiwa dan lisan kalian.” Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasa`i, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 5401.

Bahwa tujuan jihad dalam arti perang adalah meninggikan kalimat Allah, hal ini juga terwujud melalui jihad dengan harta dan lisan dengan menjelaskan kebenaran dan membantah kebatilan melalui media yang sesuai dengan zaman, lebih-lebih di zaman ini di mana media informasi telah menyebar luas sehingga ia menjangkau pelosok bumi dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk pemikiran masyarakat, bahkan perang informasi melalui media masa lebih besar dampaknya daripada perang militer.

Penerapan pos fi sabilillah di zaman ini adalah

1- Pendirian kantor atau yayasan dakwah dan menanggung biaya pendanaannya yang menjadi tuntutan operasionalnya.

2- Mencetak buku-buku yang bertujuan menyebarkan ilmu syar’i dan dakwah kepada Allah serta mengedarkan kaset-kaset Islam yang membawa misi demikian.

3- Mendukung halaqah-halaqah al-Qur`an dan mendanai biaya operasionalnya, hal ini akan mewujudkan tujuan mulia yaitu pengajaran dan pengamalan terhadap kitab Allah.

4- Pendirian web-site di dunia internet dan membiayainya untuk menjelaskan kebenaran dan berdakwah kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, lebih-lebih di zaman ini di mana teknologi telah menjadi sarana paling efektif dalam berkomunikasi.

5- Pendirian jaringan TV Islam dengan misi dakwah, hal ini termasuk sarana jihad dengan lisan yang paling agung, karena ia memberi dampak yang besar. Pendirian media siaran Islam (radio dan sejenisnya) untuk menyuarakan kebenaran sehingga ia menjangkau seluruh penjuru bumi.

6- Mendanai gerakan-gerakan dakwah dalam bentuk seminar, kajian, diskusi dan sejenisnya, termasuk mendukung kehidupan ekonomi para da’i dan muballigh sehingga bisa lebih konsentrasi menekuni lahannya.

7- Pendirian majalah-majalah dan koran-koran Islam dengan misi dakwah yang shahih kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menjelaskan kebenaran dan menangkis kebatilan.

Dan sarana-sarana modern lainnya yang bisa membantu mewujudkan tujuan dan sasaran dakwah kepada agama Allah sehingga alam semesta mengetahui kemuliaan Islam. Wallahu a’lam.

tulisan ini saya copas dari fanpage Hadist Shahih

Selamat jalan mbah Pujo

77 tahun, jumlah umur berdasar keterangan pak Lurah Belang Wetan tadi siang dalam upacara pemakaman Mbah Pujo. Entahlah berapa tepatnya usia kakek dari simbok ini, saya sendiri kurang tahu. Mungkin karena saya sendiri kurang akrab dengan beliau sejak kecil sampai beranak dua, yang karena suatu sebab yang sebaiknya ditutup karena merupakan aib seseorang. Bukan begitu?
Dari perkawinan pertamanyalah lahir Mbok Iyah yang nantinya berjodoh dengan Pak’e yang diamanahi empat anak tetapi tinggal kami bertiga. Mbak Narti sang sulung diceritakan sudah meninggal di usianya yang sangat dini, sebabnya? Ah, mungkin kalau diceritakan akan menyaingi kisah sinetron yang dulunya sampai season delapan. Ya, Mbok Iyah sosok ibu yang kukenal sangat sabar dan tegar in, siapa sangka memiliki kisah yang rumit serumit bolah ruwet. Bahkan ketika saya beberapa kali dikisahinya saya masih bisa menitikkan air mata. Dari simboklah saya belajar arti sabar dan tabah.
Selamat jalan mbah, terima kasih kau warisi kami sosok ibu yang tegar. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Tarif taksi dalam kota Madiun 2014

Mungkin belum banyak yang tahu masalah dunia pertarifan yang satu ini. Jujur saja, saya sendiri baru tahu kemarin rabu sepulang nyoblos di kampung halaman saya, tepatnya di Desa Jurangjero Klaten. Lho, kok mudik bawa mobil, baliknya ga dibawa, memang kenapa mobilnya? Hehe, maklum mobil sepuh, sama saya aja umurnya lebih tuaan mobilnya dua tahun, jadi perlu diistirahatkan sebentar. Syukur-syukur punya rejeki lebih buat ngenomke mobil, aamiin.

Jadi ceritanya setelah mudik mulai pukul 02:40 waktu Madiun sampai Semin Gunung Kidul pukul 06:15an, karena nderekne ibu setelah seminggu membersamai cucu-cucunya yang ganteng, kami berempat langsung melanjutkan perjalanan ke desa di atas tadi. Mau apa? Ya nyoblos, sekalian memudikkan bocah-bocah, maklum sudah lama mereka ga mudik, banyak yang kangen.
Sebetulnya banyak cerita yang bisa dikisahkan, mulai dari coblosan yang lumayan sukses nduiti, wayah panen, dan lain-lain. Sebetulnya juga cerita kali ini sudah sempat saya tulis, cuman gara-gara nulisnya di hape andro terus aplikasinya crash tanpa auto save, dan ternyata setelah dibuka lagi cuma ada judulnya saja, seketika itu juga pupus harapan menulis, baru sekarang disempat-sempatkan nulis lagi, sabar…
Lho kok malah jadi kemana-mana sih ndes? Ok, kembali ke paragraf pertama.
Jadi, sekarang itu setelah kurang lebih tiga tahun tidak naik taksi, saya jadi tahu kalau tarif taksi dalam kota Madiun sekarang sudah naik. Yang dulunya Rp 15.000,- sekarang menjadi Rp 35.000,- berdasar pengalaman kami sekeluarga kemarin naik dari Stasiun Madiun ke rumah sekitaran Jalan Salak dengan taksi Merak Ati (warna putih). Beda lagi pengalaman adik saya, dia naik dari Terminal Madiun ke Jalan Salak kena tarif Rp 30.000,- dengan taksi Bima (warna hijau).
Mungkin itu dulu saja sharing kali ini, semoga bermanfaat bagi yang belum tahu, matur nuwun.

Tarif ojek terminal Madiun 2014

Ada sedikit cerita perjalanan mudik dari Karanganyar ke Madiun pada malam pemilu kali ini. Ceritanya adalah untuk pertama kalinya setelah 3 tahunan saya naik ojek lagi dari terminal purabaya Madiun ke rumah di sekitaran Jalan Salak. Bukan disengaja sebetulnya, karena biasanya saya dijemput oleh istri tercinta, yang tidak tega saya kedinginan jika naik motor malam sendirian sama tukang ojek, iykwim haha.
Awal mulanya sih kita sudah janjian, kalau sudah dekat watsapan aja. Tak tahunya watsap ga dibalas, telpon ga dibalas, dan sms ga diangkat. Oh, sudah tidur, paling juga gitu. Kaya ga tahu istri sendiri saja, hihi.
Singkat cerita, sesampainya di terminal Madiun, saya naik ojek sama mas-mas yang kalau dilihat dari penampilannya sekitar 30-an tahun, agak gondrong, bawa motor honda kharisma. Pertanyaan standar, rumahnya mana, euphoria pemilu di desanya, yang katanya sudah ada yang sebar-sebar amplop. Katanya sih kalau kotamadya minimal bisa Rp 50.000,- per orang, kalau kabupaten lebih murah paling nyampe Rp 10.000-20.000 saja.
Terus tak lupa tanya kondisi pasar ojek di Madiun yang katanya naik turun, apalagi dengan banyaknya tukang ojek yang kudu dishift, kalau dia kena shift jam 14:00-02:00 wib. Penjadwalan ini memang sudah menjadi kebijakan paguyuban tukang ojek di sana, biar rukun katanya. Kalau pas lagi ramai tukangnya, narik 3 kali itu sudah pengpengan, kalau lagi sepi tukangnya mungkin bisa sampai 5 kali.
Tapi yang bikin agak kasian, pas ditanya anaknya sudah berapa, masnya menjawab, saya masih sendiri kok mas. Hehe, kuhanya bisa ketawa miris dalam hati, kasian juga sebenarnya dah berumur tapi masih bujang, semoga lekas ketemu jodohnya ya mas Gondrong. Aamiin.
Ngobrol di jalan, eh dah masuk komplek. Setelah ngasih aba-aba kiri kanan, lurus belok, sampailah pada saat yang berbahagia, sampai rumah! Buka dompet, kukasih Rp 10.000,- sengaja karena terakhir ongkosnya segitu. Terus kutanya kurang apa tidak, masnya menjawab, sakniki Rp 15.000,- mas. Ooh… nggih niki mas. Inflasi juga tarif ojek, heuheu. Terima kasih nggih mas gondrong, sudah nganterin saya sampai rumah dengan selamat. Semoga lekas ketemu jodoh dan lancar rejekinya.

Online-kan desamu, ikuti program web #1000desa GRATIS!

salah satu fasilitator web #1000desa
Berawal dari sebuah acara NgoPi (ngobrol pintar) kata dulu yang punya hajat, di de-Klop minicafe Madiun saya jadi mendapat wawasan baru, bahwa desa itu ternyata bisa eksis dan ngga ndeso. Kok bisa? Ya bisa, bayangkan jika kita di tengah sawah yang terletak di bawah kaki gunung nenteng laptop, hidupkan wireless, eh ternyata ada hotspot yang terdeteksi. Hebat kan? Kalau kata saya, itu emejing! super sekali! Mungkin itulah kekaguman saya terhadap sebuah desa di lereng Gunung Slamet sana, desa Melung namanya, yang mempunyai kades versi 2.0, Pak Budi Ragiel.
Tapi saya tidak akan membahas hostpot sawah ini, tapi web desa. Kenapa web desa? Karena dengannya kita bisa menginformasikan potensi dan kabar desa kita sendiri, tidak melulu menjadi konsumen berita, kita juga bisa jadi pembuat berita. Hebat kan? Mungkin itu ide awalnya, bisa jadi ada ide lain, saya lupa detil presentasi yang dibawakan oleh mas Yossy dan pak Budi waktu itu.
Lalu kenapa bisa gratis?
Jadi dalam laman web-nya 1000desa.web.id dalam peluncuran program 1000 web desa dikatakan:

program 1000 web desa merupakan kerja kolaborasi banyak pihak untuk
mendukung pengarusutamaan isu perdesaan di Indonesia. Pandi sebagai
lembaga pengelola domain menggratiskan penggunaan domain desa.id selama
satu tahun bagi desa-desa yang ingin membuat website.

Yak, satu tahun gratis, lumayan kan? Walaupun harga domain desa.id ini sebenarnya cukup murah, di resellernya sekitar Rp 55.000,- (include PPN) selama setahun. Tapi yang namanya produk baru itu mungkin perlu dikasih stimulus, apalagi berhadapan dengan instansi yang, ya.. boleh dikatakan memiliki sumber pendanaan terbatas, tidak seperti kecamatan ke atasnya. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana membangun sebuah desa bisa mendunia dan melek teknologi.

Indonesia memiliki keragaman budaya yang tersebar di desa-desa. Bila
desa bisa menyebarluaskan informasi dari wilayahnya, maka konten
internet Indonesia sangat kaya dan unik

Penggagas program 1000 web desa gratis mengajak seluruh kalangan yang
memiliki perhatian pada isu perdesaan untuk menjadi mitra kerja untuk
mewujudkan desa melek teknologi informasi.

Tidak ada salahnya mencoba, toh gratis hehehe. Dan saya sudah mencobanya, dengan bermodal kertas permohonan bertandatangan kepala desa, dan sedikit bantuan pak Bayan, desa kita sudah bisa online, terima kasih untuk om Yossep dengan openmadiun-nya yang memfasilitasi program ini, termasuk hosting IIX-nya, dan dermawans yang sudah mendonasikan sebagian rejekinya untuk menyewakan ruang. Semoga amalnya dibalas Alloh dengan rejeki yang lebih dan barokah, aamiin.
So, tunggu apalagi? Jika anda memiliki perhatian yang lebih untuk kemajuan desa anda, segera hubungi aparat desa setempat dan infokan program ini, Semangat!

Membuat bulletin jumat sederhana dengan Scribus

Latar Belakang 


Awal mula keinginan pembuatan media bulletin jumat ini bermula ketika saya dimutasikan untuk bertugas di Karanganyar, Jawa Tengah, yang kebetulan hanya sekitar satu jam perjalanan dari kampung halaman di Klaten. Semua berawal pas kebetulan waktu itu ramadhan 2013 yang lalu, dimana situasi dan kondisi masjid yang masih ala kadarnya, tanpa adanya susunan pengurus yang jelas. Singkat kata setelah inisiatif bersama, maka dibentuklah wadah sederhana takmir masjid, dan kebetulan saya didapuk menjadi Seksi Kegiatan bersama teman sepermainan saya, Bejo – bukan nama sebenarnya-, dan dirasa masjid ini perlu suatu media pembelajaran umat yang cocok untuk kondisi saat ini, yaitu bulletin atau majalah dinding.

Tetapi aplikasi apa yang halal yang bisa dipakai untuk membuat proyek kami ini? Seraya mengingat-ingat apa yang pernah disharingkan oleh salah seorang rekan di Komunitas Linux Madiun, mas Henry yang secara tidak langsung kurang lebih, “Bagaimana bisa dakwah untuk mengajak orang menuju kebenaran tapi dilakukan dengan program bajakan?” Dan akhirnya saya teringat aplikasi open source ini.

Bahan-bahan
  • Aplikasi penerbitan Scribus
Kebetulan aplikasi Scribus ini open source, jadi ga butuh crack atau serial number, dan lintas OS juga, baik Windows, Linux ataupun MacOS. Versi portablenya juga bisa diunduh di sini: http://kambing.ui.ac.id/portableapps/Scribus%20Portable/
  • Artikel menarik dan niat yang tulus

Bisa dicari di google atau dari buku-buku perpustakaan, untuk niat kembali ke hati masing-masing.

Cara Meracik

Terus terang ini kali pertama saya membuat bulletin dengan bantuan Scribus, sehingga mau tak mau kudu gugling juga cara pengerjaannya. Dan kebetulan juga saya ini seorang yang bertipe belajar visual (kata istri & seorang Widyaiswara) maka saya mencarinya di Youtube. Dan inilah video tutorial yang saya pakai sebagai referensi pembuatan bulletin jumat edisi pertama masjid Al Hidayah.

Dan kebetulan juga buletin yang saya buat itu berlipat tiga, jadi hampir seluruhnya saya mencontoh tutorial di atas. Sekian dan selamat mencoba. Salam open source.

Opo timbangane iki rusak tho dhe?

Yak seperti judul, pertanyaan yang langsung aku tanyakan kepada budhene anak-anak, ba’dha diri ini menimbang badan, tkp di PKU Muhammadiyah Semin, pas membesuk keponakan -Mas Satria- yang lagi kena typhus -alhamdulillah sampai tulisan ini ditulis, sudah bisa pulang-.
Apa sebab? “46 kg” jarum timbangan telah dengan sengaja menunjuk angka itu, yang seolah-olah memvonis diri ini kurus. Tapi, apa benar badanku ini sekurus itu? Yang bahkan lebih kurus dari badanku yang dulu sewaktu lulus sma. Dan setelah kutanyakan pertanyaan itu, memang timbangan itu agak rusak, katanya sih selisih kurang 3 kg, yang berarti badan ini berbobot 49 kg.
Kaget, syok, dan heran, sebegitu hebatnyakah efek setiap hari naik motor? Ataukah memang jauhnya jarak tiap hari yang kutempuh berhasil menerbangkan lemak-lemak tubuhku ini yang tidak seberapa ini? Yang terakhir menimbang sebelum lebaran stabil di angka 53-54 kg.
Well… apapun itu, semoga bisa menjadi sinyal agar senantiasa menjaga pola makan, banyak-banyak butuh asupan protein. Dan berharap semoga tidak lebih kurus lagi.