FreeTalk : Third Pregnancy

Sapu-sapu blog….
Berapa lama ya blog ini ditinggalin penghuninya? Hihihi, terakhir posting saya tertanggal tahun lalu, tepat sebulan sebelum si testpack menunjukkan garis merah dobelnya. Ya, tepatnya sih saya mau nyalahin datangnya kehamilan ketiga ini atas kemalasan ngeblog (dan masak dan nyuci dan nulis dan belajar dan lain-lain).

                                                                                        gambar dari sini

Awalnya sih dengan status sudah tinggal di rumah, ga ngantor lagi, saya sudah menyiapkan segudang rencana, mau ini, mau itu, ingin ini ingin itu banyak sekali *baling-baling bambu* *eh*. Tapi semua hilang dan tak ada bekasnya sejak suatu pagi saya menemukan sesuatu yang telah lama pergi : morning sickness….
Sebagai ibu dua anak yang mengalami kehamilan ketiga, awalnya dengan jumawa saya mengira bahwa kehamilan ini akan berjalan paling smooth, santai kayak di pantai, udah yang ketiga gitu loh… Gejala apa sih yang belum pernah saya rasakan sebelumnya? Meh…enteng mah hamil tuh.
Ternyata, sebagaimana tidak ada dua individu yang sama, kehamilan ini pun jauh berbeda dengan kehamilan kakak-kakaknya. Dari pagi sampai pagi saya tepar, membuka mata di jam sepuluh pagi serasa harus lari keliling stadion 4 kali bolak-balik (oke, oke saya lebay…tapi pokoknya uabot rek….)
Bahkan sebuah blog yang awalnya akan saya dedikasikan sebagai catatan si bayi selama di perut, menganggur tanpa guna, hanya tinggal nama, hahaha… Yasudahlah ya, bumil ga boleh dipaksa kan ya… harus bahagia, biar bayinya tumbuh sehat sejahtera 🙂
Bagitulah, postingan ini menandai kembalinya netbook di tangan saya niat untuk berbagi cerita disini. Semoga semangat saya bisa terjaga, ga ngilang kemana-mana lagi, aamiin.

Ngidam baguette

Assalamualaikum, reader… *pura2nya ada yang baca*
Fuwaaaah, lama banget ga ngisi blog. Dikarenakan satu dan lain hal,  mood saya ngeblog – yang emang dari sononya ga netep – makin sirna. Salah satunya karena alhamdulillah, keluarga kami bakal nambah anggota lagi, calon si bungsu (kalo ga nambah). Dan morning sickness telah menumbangkan saya, membuat saya jadi mirip ulat menjelang pupa.
Ngomongin hamil, ga jauh2 lah dari hal populer yang mengiringinya, ngidam. Selain dari membuat saya ga berkutik dengan serangan mual dan lelah level ibukota, saya ga banyak pingin macem2. Cukup makanan2 kategori hot or spicy,  cukupan lah melewati ujian kerongkongan sampai lambung. Kecuali yang satu ini, saya kepingin garlic bread!
Sebelum bilang gampang, saya ini tinggalnya di pinggiran kota kabupaten di wilayah jateng, yang peha terdekatnya mesti ke solo atau minimal ke amplaz, jogja. Karena saya ini penganut paham pergi berdua dengan suami dan meninggalkan anak2 dirumah adalah salah satu perilaku egois, serta memaksa pergi jauh naik motor membawa 2 balita itu berpotensi menyiksa diri sendiri dan orang lain, yowis lah, saya ngalah. Tak gawe dewe.
Gugling resep garlic bread, sajaknya ga susah2 amat. Justru masalahnya pada si rotinya, dimana saya bisa dapat baguette? Lagi2 kepentok, akhirnya saya memutuskan mencoba bikin sendiri. Jadi,  alhadulillah, ga jadi ya sudah. Pokok udah nyoba 🙂
Saya dapat resep baguette ala baboubsa dari blog mbak amy pangestu (http://mamiko.blogspot.com//). Berikut resepnya.
Baguette
Bahan :
Tepung terigu 500gr
Garam 4gr
Ragi 10gr
Air 375gr
Cara membuat :
1. Campur semua bahan kering, lalu masukkan air 325gr lalu aduk hingga rata.
2. Istirahatkan 30 menit.
3. Uleni dengan metode slap and fold
4. Tambahkan sisa air dengan metode stretch and fold
5. Istirahatkan selama 1 jam dengan diseling stretch and fold setiap 20 menit.
6. Fermentasikab di kulkas selama 21 jam, dalam plastik beroles minyak.
7. Keluarkan dalam suhu ruang selama 1 jam.
8. Bentuk memanjang dan istirahatkan selama 45 menit.
9. Beri irisan di permukaannya, lalu panggang selama 15 menit pada suhu 250 dercel (karena oven saha kurang panas, ditambah 10 menit).
10. Angkat dari oven setelah matang dan berwarna kecoklatan.

Crispy almond and chocolate chips cookies

Cookies, kata ini menandai panjangnya pencarian saya atas cara yang benar membaca resep. Atau apa yang tak tertulis di resep. Pun, membawa saya lebih memahami tentang my kitchen mate, Oven.
Sebenernya saya selalu takut bikin cookies. Kenapa? Karena tulisan di resepnya gampang sekali. Iya, gampang sekali. DI RESEP.
Tulisannya cuma aduk campur dan sejenisnya. Oven sampai matang. Dinginkan. Ya ampun, inilah yang telah membuat saya terjebak, terperangkap, tenggelam dalam laut tak berkesudahan… (trus dilempar loyang)
Cookies pertama saya berakhir menjadi segumpal benda cokelat kering, pahit dan berbau hangus. Noooo…..!

Jadi ceritanya karena percaya letterlijk sama resep, saya masukin dough ke oven, pasang timer trus saya tinggal bermain sama Brissingr-nya Mas Pao. Setelah “ting”, ternyata si cookies udah bertransformasi sempurna menjadi adonan gosyong. Abis itu saya sadar, kalo manggang cookies itu mainnya feeling, bukan sekedar resep (ya iyalah…) Cookies-cookies berikutnya menandai pertarungan saya melewati rintangan, menuju resep yang paling iyes di lidah (lidah saya tentunya, hehe)
Nah, selera saya tuh sederhana aja, saya sukaaa banget sama cookies semacam goodtime, yang krispi, cokolati, dan yah…berasa goodtime. Sejauh ini menggugling, keknya kebalikan saya, kebanyakan orang suka cookies yang rada chewy. Apakah saya aneh? *sambil bawa peso*
Niat awalnya saya mau bikin drop cookiesnya anna olson, tapi berhubung foto hasilnya keknya juga semacam chewy, saya urung. Ganti resepnya dari blognya mbak Riana Ambarsari yang diadaptasi dari Ashley. Berikut resepnya :
Bahan :
 330 gram terigu protein sedang
1 sdt soda kue
1 1/2 sdt maizena
1/2 sdt garam halus
180 gram mentega, suhu ruang (aslinya dilelehkan)
180 gram gula halus (aslinya 200 gram gula pasir)
80 gr gula palem (aslinya 60 gram)
1 telur utuh
1 kuning telur
1 sdt vanilla essence (pasta vanilla)
220 gram Choco chips (aslinya 200 gr milk atau dark chocolate chips + 50 gr untuk garnish)
almond slices secukupnya untuk garnis
Cara membuat :
1. Ayak terigu, soda kue, maizena dan garam dalam mangkok, aduk rata.
2. Dalam wadah terpisah, aduk rata mentega, gula halus dan gula palem. Adonan akan menjadi halus dan creamy. Masukkan telur utuh, kuning telur, aduk rata. Tambahkan vanilla, aduk rata.
3. Tuangkan adonan basah ke adonan kering, aduk hingga rata dengan sendok kayu/spatula. Tambahkan choco chips. aduk rata.
4. Tutup dengan plastik wrp, simpan di kulkas minimal 3 jam (karena saya ketiduran sehabis tarawih, akhirnya baru besoknya adonan di oven, hihihi)
5. Keluarkan adonan dari kulkas, biarkan kurang lebih 10 menit agar mudah dibentuk. 
6. Bentuk adonan dengan tangan membentuk bulatan tidak sempurna sebesar
bola ping-pong, atau tergantung keinginan, letakkan di loyang kue
kering yang sudah dialasi silpat atau baking paper, beri jarak antara
adonan. (Batch pertama saya cetak pake scop es krim, jadi cookies raksasa yang rada chewy. Batch kedua saya cetak pake ukuran sendok makan, jadi pas seukuran goodtime. Dua-duanya langsung dihabiskan anak-anak di hari pertama, jadi buat yang difoto blog ini adalah batch ketiga)
7. Pipihkan sedikit adonan dengan jari. Tidak perlu membentuk permukaan
yang sempurna
8. Panggang dalam oven yang sudah dipanaskan 180 derajat Celsius( ukuran scop es krim selama 13 menit. ukurn sendok makan 9-10 menit. Ukuran batch ketiga lebih kecil, matang di menit ke 7-8. Ini untuk hasil cookies yang krispi lho ya)
9. Keluarkan dari oven, dinginkan 10 menit, pindahkan cookies ke atas rak, biarkan dingin seluruhnya. Simpan dalam wadah tertutup. (Kalau sempat disimpan)
Kan mumpung ini awal Ramadhan, bisa buat persiapan cookies lebaran juga. Dan (lagi-lagi) mumpung awal ramadhan, saya sekeluarga mengucapkan,

Mohon maaf atas segala khilaf yang disengaja maupun tidak, serta selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan.Semoga selepas Ramadhan, kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi, aamiin.

 Sekian food corner kali ini, Happy baking ^____^
 Eh, kalo ada yang heran kenapa saya pake loyang cheesecake teflon, itu karena abis pindahan bulan lalu, saya kehilangan baking paper, dan belum sempat lupa beli lagi, makanya gantinya pake loyang teflon, hehhe

Pekerjaan ibumu apa?

“Kalo budhe kerjaannya di sepatu, kalo pakdhe sugeng di tangerang. Kalo ayahmu kerjaannya apa? Ibumu kerjaannya apa?”
Deg!
Kaget lalu cengar-cengir mikirin jawaban apa kalau sebentar lagi si kakak lari ke kamar dan menanyakan apa jawabannya. Anak-anak ini ya, bahasan obrolannya sampe ke urusan kerjaan segala. Perasaan waktu kecil, nggak ada deh yang ngobrolin topik semacam ini di lingkungan permainan saya.
Tepat sebulan, saya pindah tugas dari belakang meja ke belakang meja lainnya. Dengan perubahan jobdesc, dari mengawasi orang-orang dewasa menjadi mengawasi dua balita plus 1 anak kecil yang sedang dalam tahap kritis terhadap apa pun di sekitarnya. Butuh adaptasi yang tidak sebentar.
Pertanyaan seputar -kenapa bulan warnanya putih kalo siang?, apa kucing kecil nggak takut jatuh? sampai kalo makan sayur aja nggak pakai nasi jadi kuat? kan sayur bikin kuat- kadang membuat keki mencari jawaban yang benar, tepat dan efisien. Benar : si anak jadi bertambah pengetahuannya. Tepat : Cara menjawab sesuai usianya, tidak membuatnya bingung. Dan efisien : Setelah dijawab, si bocah jadi tidak menggantinya dengan 25 pertanyaan selanjutnya, jadi ibunya bisa melanjutkan melipati baju kering atau mengaduk tepung. Jadi intinya, saya mesti belajar jadi guru deh….
Sewaktu kecil dulu, ibu sering mengarahkan saya menjadi guru, katanya sih melanjutkan profesi bapak, yang sebenarnya juga adalah cita-cita ibu yang tak sampai. Tapi karena saya tahu diri, kesabaran saya waktu masih muda dulu minim, menghadapi satu dua anak aja saya udah bingung, apalagi sekelas. Jadilah akhirnya saya batal menjadi guru. Plus, faktor lain mendorong saya untuk pada akhirnya lebih pilih kuliah yang lebih tidak memberatkan orangtua lebih jauh. Jadilah saya terdampar bekerja dibelakang meja.
Saya nggak pernah menyesali pilihan ini. Kalaupun bisa diulang, saya akan tetap pada pilihan yang sama. Karena baik dibelakang meja sana atau sini, saya suka kedua-duanya, dalam hal memaksa saya belajar setiap hari. Hanya saja, apa yang saya pelajari disini tentunya berbeda dengan saat saya resmi “bekerja”. Kalaupun pada akhirnya sekarang saya memilih disini, itu karena timbangan prioritas saya saat ini lebih condong disini, bersama anak-anak. Yang membawa perhatian saya kembali pada si bocah yang setengah berlari mendatangi dan melongok lewat pintu, bertanya dengan antusias.
“Ibu, pekerjaan ibu apa?”
“…………..”

Kering Tempe Kering

Ng…judulnya overdeskriptif ya, hehehe. Padahal maksud saya cuma mau membedakan 2 versi kering tempe. Meski namanya kering, ada kan yang membuat dengan versi agak basah. Jadi semacam oseng tempe yang diiris tipis. Biasanya sih orang-orang sepuh lebih suka yang kering basah (ra mudeng karepmu wis, wong kering kok basah).
Jadi ceritanya, adik wedok sing uayu dewe besok mau berangkat KKN ke Boyolali. Si bungsu ini tipe anak rumahan, seumur-umur belum pernah jauh dari simboknya. Kalo KKN gini, ya mau nggak mau si genduk belajar pisah dari mboke.
Konon kabarnya, karena satu dan lain hal, rombongan KKN yang biasanya dimasakkan makanan oleh pihak desa, kali ini harus menyediakan makanan sendiri. Dengan kata lain, masak dewe. Biar nggak ribet disana, kita akhirnya berinisiatif mbawain sangu kering tempe sebagai persediaan lauk disana. Kering tempenya yang versi kering beneran, biar awet maksudnya. Sebenernya sih, saya nggak yakin akan keawetan si kering ini, mengingat peserta KKN adalah anak-anak muda yang lagi umur-umur semego, hihihi.
Ya sudahlah, singkat cerita hari ini berjibaku di dapur bikin kering tempe. Sekali lagi versi kering lho ya *ditimpuk cobek*
Resep :
Standarnya, kering tempe bahannya harus ada tempenya ya >.<
Tempe diiris tipis-tipis
Bawang putih, bawang merah, lombok, diiris tipis juga
Kacang tanah kupas, Teri asin
Bahan-bahan diatas digoreng terpisah sampai kering, sisihkan.
Gula merah disisir, garam secukupnya
Penyedap/Kaldu bubuk secukupnya (optional, saya gak pake)

Cara membuat :
1. Panaskan minyak diatas wajan, masukkan bawang putih, bawang merah dan lombok goreng. Tambahkan air, garam, kaldu dan gula merah. Aduk sampai gula larut dan mengental (membentuk gulali)
2. Masukkan tempe, kacang tanah dan teri, aduk cepat sampai rata.
3. Matikan api, biarkan sampai dingin di wajan.
4. Pindahkan ke toples bertutup rapat agar tidak melempem.

Setelah baca ulang, mungkin lebih pas kalo namanya kering tempe renyah ya… Ah, yowis, yang lalu biarlah berlalu *clink!*

Lesehan Ikan Bakar Matoh – Ngawi

Review ini sudah sekian bulan ngendon di draft, dan baru sekarang bisa masuk kategori finished writing. Tapi gakpapa ya, kan katanya (kata siapa…) lebih baik terlambat daripada nggak diposting sama sekali. Iya kan ya… 😛
Nah, Rumah Makan Lesehan Matoh ini masih lumayan baru lho, waktu saya berkunjung kesana sih. Kalo sekarang ya nggak baru-baru amat lah. Oke, langsung aja ya..
Matoh terletak di Dusun Mbulakan, Desa Tempuran, Kecamatan Paron, Ngawi. Lokasinya di pinggir jalan Solo-Surabaya, dan mudah dijangkau dengan berbagai transportasi baik mobil pribadi maupun kendaraan umum.

Tempatnya luas dan nyaman, dengan pemandangan sawah menghampar hingga kejauhan. Kontras dengan sisi depan yang merupakan jalan raya antar propinsi. Dekorasi dan penataan dalamnya standar warung lesehan, mirip dengan pemancingan, dengan beberapa ruangan dibentuk menyerupai bale mengelilingi kolam ikan.
Oiya, peringatan nih. Sebelum kesana, kalau bisa telepon dulu untuk reservasi tempat dan memesan menu. Ada 3 alasan :
– Masaknya lamaaaaa
– Kalo terlalu siang, menu-menu tertentu sering sold out >.<
– Sekali lagi, ngelayaninnya lamaaaaaaa deh..
Menu yang disajikan cukup variatif, dengan berbagai jenis ikan, daging
unggas dan sayuran. Dengan harga yang relatif terjangkau dan rasa yang
enak, Matoh layak menjadi pilihan jika ingin merasakan kuliner di
sekitaran Ngawi.
Plus :
1. Tempat cozy, pemandangan OK
2. Masakan enak
3. Harga reasonable
4. Lokasi dekat, mudah dijangkau
Minus:
1. Proses masak dan pelayanan lambreta
2. Menu yang laris sering “ilang”

FunFact Corner : Skin of Paddy Oats

Ehm…dari judulnya mengintimidasi bingit ya. Bingung? Tenang, tak jelasin sampek mudeng, hehehe
Jadi sore ini, dipinggir wastafel terhamparlah seonggok benda-benda merah ini

Kulit Mlinjoooooo!!! Haghaghag, Simbok memang ngerti sekali kesukaan mantunya ini. Maturnuwun, mboke…. 

Nah, alasan saya nulis artikel ini adalah karena suami saya sudah ngomel berminggu-minggu blognya nggak di-apdet sampe jamuran saya pingin berbagi fakta trivia tentang kulit melinjo ini. Oke, langsung aja ya *basa-basi saya suka basi soalnya*

Melinjo(latin : gnetum gnemon), atau disebut juga mlinjo (Jawa), Tangkil(Sunda) Bago(Melayu dan Tagalog) dan Khalet (Kamboja) adalah tanaman dari keluarga gnetum yang merupakan tanaman asli wilayah Asia Tenggara. Melinjo merupakan tanaman berbiji terbuka, dan satu-satunya famili gnetum yang berbentuk pohon, bukan liana (tanaman merambat) sebagaimana umunya anggota famili gnetum lainnya.
Secara umum pemanfaatan melinjo adalah bijinya sebagai bahan pembuat emping(keripik) melinjo yang memiliki rasa dan aroma yang khas. Selain itu, kulit buahnya juga dijadikan semacam keripik, campuran sayur bahkan sambal goreng. Nah, sebagai pelengkap berikut kandungan gizi/nutrisi yang terkandung pada kulit melinjo :

Kandungan
nutrisi  Kulit Melinjo (per 100 gr berat
bersih)
Energi
= 111 kkal
Protein
= 4,5 gr
Lemak
= 1,1 gr
Karbohidrat
= 20,7 gr

Kalsium = 117 mg
Fosfor = 179 mg
Zat Besi = 2,6 mg
Vitamin A = 0 IU
Vitamin B1 = 0,07 mg
Vitamin C = 7 mg
Sumber Informasi Gizi : Berbagai publikasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia serta sumber lainnya

Ternyata lumayan juga ya kandungan nutrisinya. Tapi selain nutrisi tersebut, kulit melinjo, sebagaimana biji dan daunnya juga mengandung purin. Familiar? Ya, purin/purina inilah yang oleh tubuh diolah menjadi senyawa turunannya uric acid alias asam urat. Penyakit yang populer dengan sebutan yang sama terjadi akibat tidak adanya enzim urikase yang berperan dalam katabolisme nukleotida purina menjadi alantoin. Melinjo juga mengandung antioksidan yang ditemukan paling banyak dalam bijinya.
Setelah kandungannya, berikut saya kasih resep andalan warisan ibuk saya, Oseng Kulit Melinjo. Simak ya..

Oseng Kulit Melinjo
Bahan : Kulit melinjo, dicuci bersih, rebus sebentar
Bumbu : Bawang putih, bawang merah, cabe, gula merah, garam, daun salam. Air secukupnya.
Pelengkap : Teri, Tempe/Tahu putih dipotong dadu, goreng sebentar (Opsional)
Cara membuat :
1. Iris bawang putih, bawang merah dan cabe. Tumis bawang merah, setelah setengah kering tambahkan bawang putih dan cabe dan lanjutkan sampai warnanya cantik.
2. Tambahkan air, gula dan garam, masak sampai mendidih dan tercampur rata.
3. Masukkan kulit melinjo. Jika memakai bahan pelengkap, tambahkan sebelum melinjo.
4. Masak sampai airnya menyusut dan bumbu meresap. Angkat dan sajikan.


Gampang kan? Nah, tunggu apa lagi, coba yuk…

Chiffon Cake

Jam menunjukkan pukul 5 saat onggokan keju parut tertangkap di sudut mata. Mamiiiiii, ternyata niat eksekusi resep chiffon keju semalam hanya tinggal niat semata. Ngitung-ngitung perkiraan waktu buat bikin adonan dan waktu ngoven keknya ga keburu sampe saatnya berangkat ngantor. Tapi, tapi, tapi, kejuku gimana?? Palingan juga dicemil sampe abis Bisa mubadzir donk *ehem*
Akhirnya tetep nekat bikin. Nimbang bahan, ayak tepung, manasin oven, ngubek-ubek kontainer nyari mikser, blablabla bliblibli akhirnya adonan jadi. Dan baru nyadar si Musuh abadi loyang chiffon lupa ga dipanasin di oven *nangeeeesss* 
Mau dipanasin dulu udah ga cukup waktu, udah jam 6 kurang seperempat, darling! Nekat aja dimasukin ke loyang, pasang suhu minimal dan berdoa dengan khusyuk. Dilanjutkan pekerjaan paling mengesalkan akhir, nyuci peralatan yang seabreg. Ini nih yang bikin males bikin cake, peralatannya banyak bingits. Makanya, roti tetep my sanctuary recipe, resep aman anti gagal yang ga merepotkan, enlightning mood banget nget nget. Yaa, palingan sih bikin lengan agak mirip-mirip Xena (dikit kok, dikiiit aja) Gakpapa kan?
Abis cuci-cuci, langsung ngacir ke ringroad, menuju mobil jemputan. Masih sempet nelpon Art, pesen ngeluarin kue kalo si oven udah mati. Sebenernya pingin bilang, sekalian balikin loyangnya di botol, tapi khawatir si mbak ga ngerti dan malah bingung. Yaudah, tinggal pasrah semoga di kue ga mengerut gara-gara ga digantung terbalik.
Sorenya, sepulang dari kantor langsung ngecek loyang di dapur. Alhamdulillah, si kue aman sentosa, Cuma mengerut dikit di leher, gara-gara skip ga dibalik. Alhamdulillah….alhamdulillah….
Resep Chiffon Cake
Oh, resepnya mana? Oke, oke… maaf, seperti biasa kebanyakan ngelanturnya, hehehe. Yuk, cus ke resepnya

Resep Chiffon Cake (by : Ferona)
Bahan :
150 gr tepung terigu protein rendah, ayak
½ sdt soda kue
100 gr keju parut
1 sdt baking powder
½ sdt garam
100 ml susu cair
100 ml minyak goreng
4 kuning telur
100 gr gula
7 putih telur
½ sdt cream of tartar (ga pake, soalnya gak punya, hihihi)
Olesan :
200 gr margarin (ga pake olesan)
200 gr keju parut untuk taburan (lupa ga ditaburin gara2 buru-buru)

Cara membuat :

Aduk rata tepung terigu, baking powder, keju parut, soda kue di wadah yang cukup besar (agar leluasa mengaduknya).
Kocok kuning telur dan 2 sdm gula sampai pucat.
Buat lubang di tengah-tengahnya campuran terigu, masukkan kocokan telur, minyak dan susu. Aduk sampai licin.
Cuci bersih kaki mikser, kocok putih telur dengan sisa gula, masukkan dalam 3 tahap. Pertama, aduk dengan kecepatan rendah sampai berbusa. Kedua, aduk dengan kecepatan sedang dan ketiga dengan kecepatan tinggi sampai adukan putih telur membentuk puncak tumpul.
Masukkan adonan putih telur ke adonan tepung dalam 3 tahap (lagi). Aduk balik hingga tidak ada minyak tertinggal di dasar adonan. (Ambil putih telur bagian atas aja, tinggalkan aja cairan telur yang telah turun di bagian bawah). Hentakkan 2-3 kali untuk menghilangkan udara.
Masukkan ke dalam loyang yang telah dipanaskan (agar adonan tidak keluar melalui sela kunci loyang chiffon). Oven dengan suhu 150′ celcius selama 90 menit. Setelah matang keluarkan dari oven dan letakkan secara terbalik di leher botol selama kurleb 1 jam (kecuali menggunakan loyang berkaki ya). Keluarkan cake dengan bantuan pisau yang tajam.

Tara…. akhirnya kelar juga *ngeluk boyok*
Oiya, catatan hari ini, kalo udah mepet waktu mau ngantor, jangan nekat eksekusi resep lagi. Rempong cyiiin!

Lazy Cake (Tanpa telur, butter dan mixer)

“Aku mau kue coklat
buu..”, kalimat sambutan Saif petang itu.
 “Ibuuuuk, aku mau cotat!”, Si Beo menirukan kakaknya.
Ibunya membeku.

Jari-jari yang terasa hampir keriting gara-gara macarin
apikasi entri data sepanjang siang membuat mata rasanya pingin mereeem aja. Mau
bongkar kontainer buat ngeluarin mixer aja males, apalagi ngulenin adonan.
Errgh, pokoknya dicoret dari daftar
pilihan.
Si duo yang kelihatannya puas banget tidur siangnya tampaknya membuat mereka full amunisi
dalam merecokin saya nih kalo ga segera eksekusi requestnya.
Ga ada pilihan lain selain….. segera bikin cake yang (kalau bisa) sesimpel mungkin.
Selancar sana selancar sini, akhirnya…..nemu site-nya sweetlitlebluebird.com

Yaaay! Cake tanpa telur/eggless, tanpa butter, tanpa mixer. Bayangkan asiknya tinggal aduk jadi cake… Alhamdulillah ya.. Baiklaaaah, langsung aja ya ke resepnya.
Resep Lazy Cake


1,5 cup tepung terigu
serbaguna
3 sdm coklat bubuk
1 cup gula
1 sdt baking soda (karena
salah baca, pas eksekusi saya salah pake baking powder, tetep jadi loh, hihihi)
0,5 sdt garam
1 sdt cuka
1 sdm ekstrak vanila
5 sdm minyak sayur
1 cup air

(Seperti biasa kalo ga ada saya suka main ganti aja seadanya,
hehe)
Resep Lazy Cake
Cara membuatnya :

Campur 5 bahan kering sampai rata di pinggan
tahan panas (Saya pake 1 mangkok sedang)
Buat 2 lubang di campuran tersebut. Lubang
pertama diisi vanila, kedua cuka dan ketiga minyak. Tuang air ke atas
permukaannya. Aduk dengan whisk sampai tercampur rata.

Resep Lazy Cake

Tuang di loyang lalu oven di rak tengah dengan
suhu sedang (Karena nggak sabar, saya ceroboh dengan memakai suhu tinggi,
jadinya cake saya retak ditengah :P) Jika adonan diaduk di pinggan tahan panas,
bisa langsung digunakan untuk memanggang di oven. Panggang sampai matang, dan
cek dengan melakukan tes tusuk.

Gampang banget kaaan? Hasilnya cake yang luarnya crisp tapi
dalamnya lembut dan nyoklat. Kurang apalagi coba, udah ekonomis (ga perlu telur
dan butter), gampang tinggal ublek-ublek doank di dapur, dan ga pake capek nyuci peralatan macem-macem (cukup 1 loyang, 1 whisk
dan 1 mangkok). Cocok bingits buat mami-mami dan embak-embak yang suka kue homemade
tapi mau yang praktis dan hemat (bahan, waktu dan tenaga). Tunggu apalagi, coba yuuk 🙂