Rindu kala senja

Adzan magrib saat aku membawa motor masuk
garasi. Belum sampai tanganku meraih kenop
pintu, terdengar suara riuh dari dalam, bersamaan
dengan pintu yang terbuka.
“Ayah….ayah…ayah…”, dua batita menghambur ke
arahku dengan wajah sumringah, hanya untuk
kemudian meredup saat mendapati hanya ibu yang
pulang sendirian senja itu.
Segera kuusap kepala jagoan-jagoan kecilku sambil
mengingatkan bahwa ayah mereka baru akan
pulang pekan depan. Adik yang baru saja melewati
ulang bulan ke-15 hanya memonyongkan bibir
sambil memeluk leherku dengan manja. Jelas, dia
belum mengerti apa kata ibunya.
Sebaliknya, si sulung mulai memasang muka keruh,
kemudian menunduk menutup muka. Jemari
kecilnya bergerak mengusap sudut mata.
Senja ini, meski tanpa kata, tersirat rindu di wajah
mereka.

Madiun, 08 Mei 2013
posted from Bloggeroid

Our Daily

Sore,
Sore adalah seduhan teh panas dan canda bersama
anak-anak
Sore adalah menunggu kepulanganmu seiring
adzan berkumandang
Sore adalah memandang kalian bertiga, hartaku
yang paling berharga
Sore adalah meninabobokan si kecil jika ia sudah
puas bermain dengan kita
Dan pagi,
adalah mengawali hari dengan memastikan
keberadaan kalian satu per satu
engkau, dan anak-anak
pagi adalah menghabiskan sisa kopi dari
cangkirmu
pagi adalah harapan dan awal penantian akan sore
nanti
Seringkali, di tengah kepenatan dan keriuhan
rumah, aku merindukan kesempatan.
Aku rindu sore bersama buku tebalku
Bergelung hingga malam yang merayap
membawaku bermimpi
Aku rindu pagi yang sepi, bercengkrama dengan
rangkaiancerita
bersama secangkir kopi sebelum mengawali hari
Tapi taukah kau, sekarang semuanya kehilangan
makna
Keberadaanmu bersama mereka kini telah menjadi
eksistensiku
Tanpanya aku hampa
Hari hanya berlalu, hanya berlalu
Terlewati begitu saja
Aku rindu kita
Ya, aku rindu kita

Madiun, 08 Mei 2013
posted from Bloggeroid

Bapak

20 hari kepulangan bapak, masih serasa seperti bermimpi. Seringkali, menjelang
malam saat menidurkan anak-anak, tangan ini masih menggenggam hape, menanti
telepon bapak menanyakan kabar cucu-cucunya. Atau pagi hari, sebelum ngantor
sekedar mengingatkan untuk berhati-hati, seperti dulu saat masih sekolah. Pun
usapan tangannya yang sejuk, membangunkan di pagi hari saat masuk waktu subuh,
semasa kecil dulu.
Masih jelas gerak jemarinya diantara huruf-huruf ketika mengajariku membaca. Bapak,
guru pertama, guru sejak belajar mengeja, hingga saat akhir hidupnya. Bahkan saat
sudah berpulang, bapak mengajarkan banyak hal. Untuk menjadi sabar, lebih kuat, dan
bersemangat mengingat-Nya.
Kehilangan bapak begitu tiba-tiba, meski kapanpun saatnya akan kurasa belum
waktunya. Sosok bapak tak kan pernah tergantikan. Kekosongan karena kepergiannya
masih terasa baru, sesak dan menyakitkan. Dua puluh tiga tahun lebih, bapak menjadi
pilar dalam hidup, menjadi tumpuan dan tempat bertanya segala hal. Bapak adalah
pengobat segala luka, duka dan kesahku.Senyum dan usapan tangannya selalu
mampu membawa kedamaian, lebih dari pain killer macam apapun. Saat hidup terasa
tidak adil, bapaklah lah yang membuat timbangannya menjadi sebaliknya.Bapakku
yang aku bangga menjadi putrinya.
Bapak yang aku bangga sekali menjadi putrinya, bukan karena kekayaan, kegagahan
atau kedudukan. Bapak, seorang guru, PNS sederhana yang mengajari putra-putri dan
semua orang di sekelilingnya bukan hanya dengan kata,tapi keteladanan. Beliau tak
mengatakan apa yang tak dikerjakannya. Beliau yang membesarkan putra-putrinya
dengan kerja keras dan tetesan keringat, untuk mengajarkan putra-putrinya hal serupa.
Bapak yang kepedihan hati karena kepergiannya pun hanya beliau yang bisa
meredakannya. Senyuman terakhir yang terulas dibibir bapak,sesaat sebelum kafan
ditutupkan, menjadi penyejuk dan penguat hati. Senyum yang dibawanya pulang.
Senyuman damai. Bapak telah selesai dengan ujiannya,meninggalkan yang
mencintainya, kepada yang lebih mencintainya dibanding siapapun.
Selamat berpisah bapakku, guruku, sahabatku… Kurindukan engkau dalam setiap
detiknya.Semoga nanti kita bertemu lagi dalam bahagia. Nantikan aku disana bapak,
hinggaaku selesai dalam ujianku, hingga cukup bekalku untuk menghadap-Nya
menyusulmu.Kusimpan kenangan akan senyum bapak sebagai pengingatnya.
Madiun, 02 Mei 2013

https://m.facebook.com/note.php?note_id=10151452163123645&from_feed=1&refid=7&_ft_=qid.5875228778260939791%3Amf_story_key.-5918241568726563377
posted from Bloggeroid

Semua itu untuk keluarga

jadi ingat status seorang teman seangkatan yang merasa pekerjaannya yg sekarang ini kurang bisa memberikan family time yang berkualitas. mungkin ada yang akan bertanya, kenapa kok jauh dari keluarga? memang istri dan anak tidak dibawa serta?
sebagai suami yang pernah -dan mungkin akan- merasakan “manisnya” hubungan jarak jauh, saya berusaha untuk tidak menanyakan pertanyaan demikian, ya karena saya pernah mengalaminya. apakah enak? tentu tidak
lho, kan ga ada yang ngawasin kalo mau main? begitukah?
terlepas dari “sisi positif” LDR tersebut, negatifnya teramat panjang untuk dituliskan, uakeh je 😀
bagi yang sudah berbuntut, tentu lebih suka bisa membersamai anak2nya, biarpun cuma hal2 kecil, tapi rasanya luar biasa. barusan misalnya, menemani si mas pipis di kamar mandi dan membiasakan cebok dan cuci tangan dan mungkin hal2 kecil lain yang hebat!
ya keluarga, satu kata sarat makna. semoga kita selalu didekatkan dengan keluarga kita, toh semua yang kita dapatkan juga buat mereka. semoga…
posted from Bloggeroid

#AntiMiras Antara Menjaga Moral dan Omzet

#AntiMiras
Baru saja ku pergi ke sebuah minimarket jaringan nasional tuk membeli popok si mas yang dah habis, ketika itu juga aku ingat akan sebuah gerakan yang ada di salah satu sosial media yang keren dengan hashtag #AntiMiras. gerakan moral “penertiban” gerai2 minimarket yang menjual dan memajang minuman jenis khamr ini di area terbuka, tercampur dengan minuman2 yang sangat mungkin menjadi kesukaan anak2.
Tentu sebagai orang tua jadi merasa berpikir, bagaimana jika anak2ku nanti tanpa sepengetahuanku membeli minuman2 haram itu. Dengan sedikit rasa ingin tahu, ku bertanya pada seorang pegawai, kebetulan juga agak begitu kenal, mbak Tanti namanya.
“Mbak, itu minuman bir2 kok bisa dicampur dekat dengan minuman2 lain sih mbak?” tanyaku sambil nunjuk lemari pendingin.
“Oh.. itu sudah lebih tertutup malah mas, dulu kan di ruang terbuka” jawabnya.
“Lho, kan kalo nyampur gitu, anak2 bisa lihat mbak, kebijakan dari pusat ya?”
“Sebetulnya sih, kalau minimarket franchise, pemilik ga mau menjual dagangan tertentu sih juga gapapa.”
“Jadi gitu ya mbak?”
“Iya mas, dulu memang dah ada rencana mau distop, eh tapi malah ada yang pesen, akhirnya ya udah, begitulah.”
“Ooo… ya wis mbak, sik ya.” pamitku.
Jadi begitu ternyata, pemilik boleh menolak barang yang ga mau dijual. Aisi. Tapi pemilik juga boleh menerima tawaran permintaan konsumen. Fair enough.
Mungkin bagi sebagian orang, menjaga moral itu penting, dan bagi sebagian orang lainnya keuntungan itu lebih penting.
pecel city, sinambi momong bayi nglilir

Kangen, Muntah, dan Nangis

mungkin aneh jika menggabungkan 3 hal tersebut. dan bagaimana ga enaknya jika 3 rasa itu digabung jadi satu. 
nangis

Kangen

jadi ceritanya begini, sore kemaren pas pulang si adek dah manggil manggil ayahnya padahal belum juga masuk rumah, buka pintu aja belum. istri tersayang (kurleb) berkata,
“yah, seharian adek manggil-manggil ayah terus lho, dikasihtau ayah kerja ga percaya, gara2 ga dipamitin kali”
waduh, maafin ayah yo le, gara2 buru2 sampe lupa ga pamitan ma kamu.

Muntah

nah, kalo yang ini mungkin agak malu2in bagi seorang pria dewasa berstatus K/2. jadi begini, hampir tengah malam terbangun gara2 denger suara si mas, nangis2 kecil. kutanya,
“pipik mas?”
“iyah” jawabnya pendek.
langsung gendong ke kamar mandi, krucuk2, pyok2, selesai. balik tidur. lalu mana muntahnya? 
jadi pas masih melekan, lamat2 tercium bau tidak sedap, cuek. tapi lama kelamaan kok semakin maknyus, kulirik si mas yg bobok di sampingku, walah bobo kok y sempet2e “nge-BOM”, namanya juga anak2, jangan dimarahi. kugendong lagi ke kamar mandi, pyuk2, krucuk2, selesai. tapi “BOM” di kasur belum dijinakkan, “terpaksa” kupanggil gegana, istriku. setelah semua aman, si mas bobok lagi, terima kasih cinta.
Nhaaa, pas Barca vs Madrid mau main, bau itu muncul lagi, dan ternyata si mas “nge-BOM” lagi, hobi banget ngebom malem2. tapi kali ini memakan korban, jadi setelah dievakuasi ke kamar mandi, buka detonator, dan kucoba menjinakkan, mak bum! MUNTAH.

Nangis

kalo yang ini tkp tadi pagi pas mau berangkat. belajar dari peristiwa kemaren, akhirnya si adek kupamiti, tapi malah nangis, ga mau ditinggal. ya udah gendong bentar. diem. pamitan lagi sambil dioper ke ibunya, nangis lagi. si mas juga gitu, bangun2 liat ayahnya yang ganteng mau berangkat, nangis juga. jadilah pagi tadi arena lomba nangis anak2. kalo ga nangis bukan anak2 namanya, hehe.
reog city

Sekolah Mangkat Dewe

dadi kelingan jaman semono, isih cilik kiro2 umur 4 setengah taun, simbok ngejak aku budhal sekolah tk. jian koyo cah culun kae, biasane g tau adus isuk, dandan rapi, lha iki dandan klimis pupuran rambut sisiran belah pinggir, rapi pol!

mung ilustrasi

“meh dijak neng ngendi to iki?” ngono mungkin batinku wektu kuwi. cah cilik isinan, dijak lungo ning g ngerti ng ngendi, tapi tetep ae g wani tekok. isinan poll 

tapi sujune simbok njur ngandani, “dino iki awakmu sekolah tk yo le” kiro2 ngono kuwi ukarane. tk? sekolah sing ta’bayangke akeh dolanan, bandulan, plorodan, jajanan enak, kancane akeh, nyanyi bareng2 plus disangoni. tapi y kuwi jarene kudu sekolah mangkat dewe, ora usah diterke. koyo lagu sing sering dinyanyekne masku.

saiki aku wis gedhe… sekolah mangkat dewe..


ora usah dieterake… bareng karo kancane…


yen mlaku turut pinggiran… ora pareng gojekan..


ning ndalan akeh kendaraan mengko mundak tabrakan!

serem, cah cilik wis diancam diweden2i tabrakan, padahal dalan kampungku kuwi suepi banget, anane palingan mung pit onthel.

mbalik nang urusan mlebu sekolah, lah ternyata ning sekolah kuwi, tk pertiwi jenenge, yo wis akeh simbok2 liyo sing nggowo anak2e sing cilik2 yo podho pupuran, enek le ngganteng, ayu, umbelen yo enek, ning dudu aku 

sinambi simbok ngurus ndaftarke anake le ngganteng dewe, aku nunggu ro ngalamun, meneng neng pojokan, anteng. sawise beres, kabeh murid dikon mlebu, dikon lungguh rapi nang mejo kothak, lungguh muter wong 6 tekan 8, trus nyanyi2 g jelas kae, dan seterusnya..

tapi tiba2 ada yang aneh, lha kok endi mau simbokku, mau kan nang njobo kono? t’tolah toleh, ha kok tetep ae g ketok, padahal kan simbokku lemu. njur aku mikir, opo aku ditinggal dewe yo? mosok ditinggal sih, nak ilang ngko piye? yen diculik ngko piye?

banjur, aku kelingan lagu mau, sekolah mangkat dewe, hmmm… ternyata nang ngomah kon nyanyi lagu kuwi kie men iso sekolah ditinggal plus mangkat dewe to. dino pertama mlebu sekolah tk kok wis ditinggal, mulihe dewe ga enek le nggendong pisan, simbok…..

reog city, 26/02/2013