Tarif taksi dalam kota Madiun 2014

Mungkin belum banyak yang tahu masalah dunia pertarifan yang satu ini. Jujur saja, saya sendiri baru tahu kemarin rabu sepulang nyoblos di kampung halaman saya, tepatnya di Desa Jurangjero Klaten. Lho, kok mudik bawa mobil, baliknya ga dibawa, memang kenapa mobilnya? Hehe, maklum mobil sepuh, sama saya aja umurnya lebih tuaan mobilnya dua tahun, jadi perlu diistirahatkan sebentar. Syukur-syukur punya rejeki lebih buat ngenomke mobil, aamiin.

Jadi ceritanya setelah mudik mulai pukul 02:40 waktu Madiun sampai Semin Gunung Kidul pukul 06:15an, karena nderekne ibu setelah seminggu membersamai cucu-cucunya yang ganteng, kami berempat langsung melanjutkan perjalanan ke desa di atas tadi. Mau apa? Ya nyoblos, sekalian memudikkan bocah-bocah, maklum sudah lama mereka ga mudik, banyak yang kangen.
Sebetulnya banyak cerita yang bisa dikisahkan, mulai dari coblosan yang lumayan sukses nduiti, wayah panen, dan lain-lain. Sebetulnya juga cerita kali ini sudah sempat saya tulis, cuman gara-gara nulisnya di hape andro terus aplikasinya crash tanpa auto save, dan ternyata setelah dibuka lagi cuma ada judulnya saja, seketika itu juga pupus harapan menulis, baru sekarang disempat-sempatkan nulis lagi, sabar…
Lho kok malah jadi kemana-mana sih ndes? Ok, kembali ke paragraf pertama.
Jadi, sekarang itu setelah kurang lebih tiga tahun tidak naik taksi, saya jadi tahu kalau tarif taksi dalam kota Madiun sekarang sudah naik. Yang dulunya Rp 15.000,- sekarang menjadi Rp 35.000,- berdasar pengalaman kami sekeluarga kemarin naik dari Stasiun Madiun ke rumah sekitaran Jalan Salak dengan taksi Merak Ati (warna putih). Beda lagi pengalaman adik saya, dia naik dari Terminal Madiun ke Jalan Salak kena tarif Rp 30.000,- dengan taksi Bima (warna hijau).
Mungkin itu dulu saja sharing kali ini, semoga bermanfaat bagi yang belum tahu, matur nuwun.

Tarif ojek terminal Madiun 2014

Ada sedikit cerita perjalanan mudik dari Karanganyar ke Madiun pada malam pemilu kali ini. Ceritanya adalah untuk pertama kalinya setelah 3 tahunan saya naik ojek lagi dari terminal purabaya Madiun ke rumah di sekitaran Jalan Salak. Bukan disengaja sebetulnya, karena biasanya saya dijemput oleh istri tercinta, yang tidak tega saya kedinginan jika naik motor malam sendirian sama tukang ojek, iykwim haha.
Awal mulanya sih kita sudah janjian, kalau sudah dekat watsapan aja. Tak tahunya watsap ga dibalas, telpon ga dibalas, dan sms ga diangkat. Oh, sudah tidur, paling juga gitu. Kaya ga tahu istri sendiri saja, hihi.
Singkat cerita, sesampainya di terminal Madiun, saya naik ojek sama mas-mas yang kalau dilihat dari penampilannya sekitar 30-an tahun, agak gondrong, bawa motor honda kharisma. Pertanyaan standar, rumahnya mana, euphoria pemilu di desanya, yang katanya sudah ada yang sebar-sebar amplop. Katanya sih kalau kotamadya minimal bisa Rp 50.000,- per orang, kalau kabupaten lebih murah paling nyampe Rp 10.000-20.000 saja.
Terus tak lupa tanya kondisi pasar ojek di Madiun yang katanya naik turun, apalagi dengan banyaknya tukang ojek yang kudu dishift, kalau dia kena shift jam 14:00-02:00 wib. Penjadwalan ini memang sudah menjadi kebijakan paguyuban tukang ojek di sana, biar rukun katanya. Kalau pas lagi ramai tukangnya, narik 3 kali itu sudah pengpengan, kalau lagi sepi tukangnya mungkin bisa sampai 5 kali.
Tapi yang bikin agak kasian, pas ditanya anaknya sudah berapa, masnya menjawab, saya masih sendiri kok mas. Hehe, kuhanya bisa ketawa miris dalam hati, kasian juga sebenarnya dah berumur tapi masih bujang, semoga lekas ketemu jodohnya ya mas Gondrong. Aamiin.
Ngobrol di jalan, eh dah masuk komplek. Setelah ngasih aba-aba kiri kanan, lurus belok, sampailah pada saat yang berbahagia, sampai rumah! Buka dompet, kukasih Rp 10.000,- sengaja karena terakhir ongkosnya segitu. Terus kutanya kurang apa tidak, masnya menjawab, sakniki Rp 15.000,- mas. Ooh… nggih niki mas. Inflasi juga tarif ojek, heuheu. Terima kasih nggih mas gondrong, sudah nganterin saya sampai rumah dengan selamat. Semoga lekas ketemu jodoh dan lancar rejekinya.